22.8.08

BERANI BERUBAH

Kesuksesan seseorang bisa dilihat dari kondisi aktualnya dibandingkan dengan potensi yang melekat pada dirinya.Bila ditemukan kondisi aktual yang tidak sesuai dengan kecenderungan umum, maka sangat pantas dipertanyakan di manakah dia hadir ketika orang/kelompok/organisasi sedang memerlukannya.
Untuk mengeluarkan potensi dan mengubahnya menjadi kondisi aktual tidaklah mudah. Diperlukan sejumlah pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran dan emosi.Intinya, berani berubah. Tentu saja segala macam risiko harus diperhitungkan. Itulah harga yang harus dibayar.
Tapi yakinlah, dengan keberanian untuk berubah peluang untuk lebih baik pastilah lebih besar daripada terus-menerus memeluk keadaan yang lalu di mana potensi hanya tertidur dan bisa jadi potensi itu akan menyusut. Keberanian untuk memaksimalkan potensi diri akan dihargai dengan perubahan yang positif yang membawa kepuasan, kekayaan dan kesejahteraan.

17.7.08

KELUARA DARI ZONA NYAMAN

Setiap orang mempunyai zona nyaman sendiri. Zona nyaman yang dimaksud adalah tempat, kegiatan, pekerjaan, teman dsb. yang begitu dinikmati dan menyenangkan yang membuat dia terlena sehingga tidak mau berusaha. Baginya tidak ada lagi usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih- lebih baik, kaya, cerdas, cantik.Ironisnya, tingkat pencapaiannya belumlah cukup baik bila dibandingka dengan orang atau pihak lain. Bahkan bila dibandingkan dengan potensi terbaiknya, prestasinya saat ini belumlah berarti apa-apa.
Dengan demikian, zona nyaman bisa membuat orang terlena. Pada dasarnya orang yang terjebak dalam zona nyaman tidak menginginkan perubahan. Perubahan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia menolak perubahan karena takut kehilangan kenikmatan yang selama ini secara otomatis ada dalam jangkauannya.
Zona nyaman tidak boleh berlama-lama ditinggali. Harus segera ada tindakan untuk beralih. Hal utama yang perlu dibenahi adalah cara berpikir-mindset. Masih banyak hal yang perlu dikejar dalam hidup ini. Untuk itu dibutuhkan aksi-aksi baru. Langkah pertama adalah segera beranjak dari tempat, bergegas menuju target terbaru yang lebih menantang. Yang lebih merangsang pemanfaatan segala potensi yang dimiliki. Mula-mula potensi yang paling terasa dan nyata akan spontan tereksplor. Kemudian, potensi yang tertutup akan menyusul untuk ditampilkan.
Saat ini, saya merasa profesi sebagi guru tidak cukup memberikan kepuasan. Semua orang tahu, kalau dari segi fisik material hidup sebagai guru tidak memberikan sesuatu yang menjanjikan. Karena itu, yang dikejar orang kebanyakan adalah segi idealisme untuk mengajar dan membangkitkan kemampuan otak anak didik. Juga terjalinnya hubungan sosial yang erat dengan anak didik dan orang tua. Tapi sayang, hal ini tidak cukup kuat menahan saya untuk mencari tanggung jawab yang lebih besar sekaligus kesempatan yang lebih besar untuk maju.
Pilihan profesi yang ada di benak saya adalah menjadi penulis, pelatih/pembicara, penjual dan pengusaha. Inventarisasi sementara menunjukkan saya lebih siap untuk menjadi penulis. Tetapi, sasaran jangka panjang saya adalah menjadi pengusaha. Tidak jauh-jauh, pengusaha di bidang yang berkaitan dengan dunia pendidikan, penerbitan dan pelatihan sumber daya manusia. Tetapi, saya juga membutuhkan keterampilan untuk menjual. Makanya, ketiganya-penulis, penjual, pengusaha- akan saya tekuni dengan titik fokus utama menjadi penulis.
Saya yakin bisa sukses di bidang ini dengan latihan tekun, belajar dari penulis-penulis besar serta mengembangkan kebiasaan efektif menjadi seorang penulis profesional. Guru-guru itu misalnya Jack Canfield, James C. Maxwell, Anthony Robbins, Robert K. Kiyosaki. Dari dalam negeri juga ada. Mereka adalah Andrias Harefa, Edy Zaqeus, Hernowo, Bambang Trim,Rhenald Kesali dan Adi W. Gunawan.

11.7.08

Secuil Potret PSB SMK

Selama ini saya hanya mendengar berita betapa sulitnya orang tua untuk mencari sekolah yang cocok bagi putra-putrinya.Kala itu saya berpikir apakah memang para orang tua ini hanya ingin anaknya cepat-cepat dapat sekolah atau karena mereka tidak bersedia menjalankan setiap tahapan dalam mendaftarkan anak dalam PSB (Penerimaan Siswa Baru).
Sekarang saya baru merasakan sendiri. Ketika ada seorang keponakan ngotot mau sekolah di Jakarta, saya langsung angkat topi kepadanya. Walaupun tanggapan saya tidak langsung sampai kepada yang bersangkutan, tetapi saya mencoba untuk mencari informasi. Pegangannya hanya satu, Jos, demikian nama anak itu mau masuk SMK di Jakarta. Alasannya, kalau dia bertahan sekolah lebih lama di Lintongnihuta, Humbang Hasundutan, mungkin sekali dia akan rusak. Pergaulan dengan teman lebih banyak negatifnya. Karena dia mau maju, maka tempat yang paling tepat adalah Jakarta. Dan di Jakarta dia punya cukup banyak saudara-opung, tulang, uda, namboru.
Tentu saja saya mencari informasi sekolah mana yang bagus di daerah Jakarta Timur, khususnya Kecamatan Kramat Jati. Maksudnya supaya dekat ke rumah. Irit ongkos dan waktu.Tapi yang pasti, SMK dimaksud cukup berkualitas baik.
Yang paling dekat adalah SMKN 10, hanya berjarakk 300 meter dari rumah. Tapi karena sekolah favorit, standar nilainya amat tinggi. NEM rata-rata harus minimal 8. Padahal, si Jos menurut saya agak susah untuk mendapat poin setinggi itu. Ditambah lagi, ketentuan Pemerintah DKI Jakarta untuk mengenakan persyaratan tambahan yang lebih berat bagi anak yang berasal dari luar Jakarta. Konkritnya, siswa luar Jakarta dituntut untuk mempunyai nilai rata-rata 1 poin lebih tinggi. Itupun hanya untuk 5% dari total jumlah kursi.
Tidak ada jalan lain, harus mencari sekolah swasta tapi berkualitas. Ditemukanlah sebuah SMK di daerah Halim.Saya ambil formulir pada hari Senin, 7 Juli 08 sekitar pukul 11.00. Sesuai dengan dugaan, pendaftar ke sekolah itu memang banyak. Formulir pendaftar untuk yang masuk pagi sudah habis. Otomatis saya mengambil formulir untuk yang masuk siang. Oleh petugas, disarankan untuk cepat-cepat kembali dengan membawa persyaratan dan mengisi formulir.
Sayangnya, si Jos baru berangkat pada hari yang sama sore harinya. Karena keterbatasan biaya, dia harus berbesar hati untuk naik bis PMH. Berangkat sore hari dari Siborongborong yang berjarak 1/3 jam perjalanan dari Hutabaris. Bagaimana mungkin saya mendaftar lebih cepat, data-data Jos serta rapot dan KHN masih dipegangnya. Belum lagi, saya menunggu suply uang pendaftaran dari tulang/pamannya.Walaupun begitu, saya tidak khawatir karena formulir sudah di tangan. Jos dan uang akan tiba pada hari Kamis. Masih ada waktu, Jumat dan Sabtu sesuai dengan ketentuan waktu di brosur dalam map pendaftaran.
Alangkah kagetnya saya, ketika mendapati sekolah swasta itu menyatakan penerimaan siswa sudah tutup. Alasannya tunggal, kursi sudah penuh. Tambah sedih lagi, ukuran penuh ada siswa yang sudah membayar terlebih dahulu itulah yang diterima. Pada waktu pengambilan brosur, tidak dinyatakan secara transparan kriteria penerimaan siswa. Kita sebagai orang tua/wali sudah merasa aman dengan memegang formulir di tangan. Yang jelas, mereka menjual sejumlah formulir yang melebihi daya tampung. Itu masuk akal karena mereka mau mendapat keuntungan dari penjualan formulir. Selain itu, mereka memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat.Wajar saja, rekan-rekan orang tua/wali yang mengalami nasib sial ini meradang.
Kita bukannya tidak niat untuk menyekolahkan anak ke sini, tapi karena harus berupaya untuk terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang dimaksud berupa sejumlah dokumen dan uang.Tentu saja hal ini sangat memukul orang tua/wali dan anak. Mau tidak mau, kita berpikir berarti hanya yang punya uang lebih banyak dan lebih cepatlah yang paling berhak menikmati asam manisnya pendidikan.
Memang sih, masih ada kemungkinan untuk mencari sekolah lain. Yang kita sesalkan adalah caranya. Kita tidak bisa terima tersisih hanya karena "terlambat" mengembalikan formulir. Pihak sekolah tidak memberikan ketentuan yang jelas dan lugas yang bisa dianggap fair.
Dalam kondisi demikian, saya cuma berharap ada kebijakan yang lebih manusiawi. Artinya, paling tidak diberikan kesempatan untuk masuk dalam daftar tunggu. Semacam cadangan, siapa tahu ada yang mengundurkan diri atau terjadi sesuatu halangan.
Inilah secuil potret dunia pendidikan kita. Manajemen penerimaan siswa baru saja tidak beres, apalagi dalam proses belajar-mengajar, ujian serta kualitas lulusannya.

6.7.08

GANTI HALUAN

Sudah lama saya hampir selalu melihat dan membaca koran Kompas, khususnya hari Sabtu dan Minggu. Yang dicari jelas,lembar klasika.Ada 2 bagian yang menjadi favorit saya di sana yaitu acara tv dan karir.
Tapi sekarang sudah mengurangi membaca kedua bagian tsb. Kalaupun saya membaca klasika lebih ditujukan membaca iklan yang bertujuan untuk melihat peluang bisnis yang terkandung atau terselip di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan haluan untuk mencari peluang bisnis karena saya mau menjadi pebisnis alias wiraswasta atau isatilah kerennya pengusaha. Iklan bagian karir sudah tutup buku dulu.
Sebenarnya saya belum begitu mantap dengan pilihan bidang bisnis yang akan saya kembangkan. Tapi kalau melihat dari hobi dan kemampuan sepertinya akan lebih fokus pada bidang yang ada kaitan dengan tulis-menulis. Ya, usaha menulis artikel dan buku adalah yang lebih mudah saya masuki. Nantinya akan berkembang menjadi sebuah penerbitan yang kalau pandangan optimisnya akan terintegrasi dengan percetakan.
Selain itu, saya juga sangat tertarik dengan bisnis on-line, lebih tepatnya internet marketing.Saya sedang mencari dan mempelajari informasi sebanyak mungkin tentang bidang ini. Katanya, ada peluang untuk memanfaatkan minat dan kemampuan di bidang penulisan. Nama bekennya adalah menjadi marketing copywriter. Tugasnya membuat tulisan yang menggugah orang untuk membeli dengan gaya yang informatif, persuasif dan meyakinkan. Pokoknya supaya pembaca merasa tergerak sehingga tidak mungkin untuk menolak.
Semua ini masih awal dari sebuah tujuan besar. Saya membutuhkan keyakinan teguh, kemauan untuk belajar dengan cepat dan fokus,serta kerja keras dan cerdas memanfaatkan semua aset dan jaringan yang ada.

15.5.08

Apa sih peranan guru?

Dari 8 macam peran guru yang diungkapkan oleh Hamalik (2004), yang tampak menonjol ditampilkan di dalam kelas adalah 4 macam saja yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pemimpin dan guru sebagai ilmuwan. Sebagai pengajar guru harus memahami pelajaran secara mendalam, menguasai metode dan teknik mengajar. Sebagai pembimbing, guru harus bisa memberikan bantuan kepada murid agar mampu mengenali diri sendiri, menemukan masalah, memecahkan masalah dan menyesuaikan diri. Sebagai pemimpin, guru membuat rencana, melaksanakan, mengorganisasi, mengkoordinasi kegiatan, mengontrol dan menilai. Sebagai ilmuwan, guru wajib menyampaikan pengetahuan kepada murid sambil terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari berbagai sumber.
Sehubungan tugas di kelas, guru berperan dan berfungsi sebagai pendidik dan pengajar, sebagai pemimpin, sebagai administrator dan sebagai pengelola pembelajaran. (Mulyasa, 2007: 19). Lebih lanjut, Ditjen Dikti P2TK, 2004 memuat fungsi guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing dan pelatih di samping sebagau pengembang dan pengelola program, serta sebagai tenaga profesional.
Ashari (2007:28) mengajak guru supaya menampilkan diri sebagai seorang guru unggul. Caranya, dengan menggunakan jurus PKS (Penampilan, Komunikasi dan Sistematika). Penampilan prima dibangun dengan rapi, bersemangat, cerdas dan percaya diri. Komunikasi dijaga dengan antara lain blocking, membangun kedekatan, menggunakan semua modalitas serta motivasi. Sementara sistematika mencakup urutan materi, bagan dan pembahasan soal.
Sayangnya, guru tidak bisa menjalankan perannnya itu secara mandiri. Dia sangat tergantung pada pihak lain. Mereka adalah kepala sekolah atau ketua yayasan serta jajarannya serta Departemen Pendidikan Nasional. Kedua atau ketiga agen ini potensial menjadi penghalang bagi lancarnya peran guru. Betapa tidak, suasana dan kondisi belajar sangat tergantung pada ketersediaan fasilitas belajar mengajar di kelas/sekolah. Dalam hal ini termasuk terciptanya hubungan yang sehat dan demokratis di kalangan guru. Pihak pemerintah memainkan peran yang tidak terlihat tetapi sangat terasa. Paling tidak hal ini tampak dalam kurikulum yang diberlakukan, perampokan hak guru untuk menentukan kelulusan serta imbalan kesejahteraan sebagai penghargaan terhadap fungsi dan profesi guru yang masih minim.
Kalau guru, kepala sekolah, ketua yayasan, Depdiknas dan orang tua bisa bekerja sinergis dan saling mengerti tugasnya niscaya akan tercipta belajar yang efektif. Menurut Dryden dan Vos (2000) belajar akan efektif kalau Anda dalam keadaan “fun”. Untuk itu perlu dipenuhi 6 prinsip yaitu:
1. “Kondisi’ terbaik untuk belajar
2. Bentuk presentasi yang melibatkan seluruh indra dan sekaligus membuat rileks, menyenangkan, bervariasi, cepat dan menggairahkan
3. Berpikir kreatif dan kritis untuk membantu “proses internal’
4. “Rangsangan “ dalam mengakses materi pelajaran, dengan permainan, lakon pendek dan drama, serta berbagai kesempatan untuk praktik
5. Pengalihan ke hubungan dan terapan nyata
6. Peninjauan ulang dan evaluasi secara teratur; dengan merayakan keberhasilan di setiap tahah
Bagaimapun rendahnya partisipasi pihak lain, tetap saja guru diharapkan mampu menjalankan perannya dengan baik. Setidak-tidaknya hal itu bisa diciptakan dalam pelajaran di kelas. Guru dapat membuat hubungan yang saling menghargai dan saling mendengarkan dengan siswa di kelas. Itu akan menjadi salah satu dasar utama bagi berlangsungnya kegitan belajar mengajar yang menyenangkan dan menghasilkan.

13.5.08

Menulis untuk Blog

Menurut saya menulis tidak sama dengan membaca, juga tidak sama dengan ngomong. Menulis sedikit lebih kompleks. Karena kita perlu berpikir dengan lebih teratur, sistematis dan bermakna. Itulah, lebih mudah orang untuk ngomong sehingga ada pameo NATO = No Action Talk Only. Sebaliknya, saya belum pernah mendengar sindiran NAWO = No Action Write Only.
Mungkin saja istilah NAWO suatu saat akan akan muncul seiring dengan perkembangan dunia tulis menulis. Setelah media cetak dengan berbagai perangkatnya seperti koran, tabloid, majalah dipenuhi dengan jutaan informasi setiap harinya, kini dunia elektronik melalui internet dengan blog-nya akan semakin terasa makin banyak orang yang menulis. Belum lagi penerbitan buku juga mengalami perkembangan yang tidak kalah pesatnya. Ini juga diperlancar dengan makin banyaknyak terbitan yang merupakan terjemahan dari bahasa asing.
Sebelum orang mengeluarkan ungkapan NAWO, sudah pada tempatnya setiap orang yang berniat untuk menjadi penulis- atau setidaknya mereka yang pernah menulis- untuk segera menulis dengan giat. Apalagi bila yang ditulis itu merupakan pengalaman-pengalaman berharga dalam dunia nyata. Itu akan menjadi salah satu bukti bahwa kita sudah melakukan sesuatu. Apabila yang ditulis itu merupakan suatu ide yang bersumber dari hasil perenungan, diskusi, membaca dsb. hendaknya ada komitmen kuat untuk segera merealisasikan dalam bentuk tindakan. Itulah yang patut kita kembangkan, menulis, berbicara dan bertindak.
Salah satu bentuk tindakan itu adalah secara serius dan konsisten menulis di blog sesuai dengan bidang pengetahuan, keahlian atau minat. Penyajiaanya bebas, menurut gaya bahasa dan gaya penampilan yang dirasa cocok.

27.3.08

Peningkatan Standar Nilai

Dunia pendidikan Indonesia makin marak diwarnai dengan pentingnya pencapaian nilai tinggi. Untuk tahun 2008 Depdiknas menetapkan standar kelulusan 5,25 untuk anak SMP dan SMA. Standar ini melejit cukup tinggi dibandingkan dengan nilai tahun lalu yang hanya 5,00. Padahal kita tahu, Depdiknas belum melakukan upaya peningkatan yang cukup yang sebanding dengan peningkatan skor sebesar 0,25.
Berbeda dengan Depdiknas yang hanya peduli dengan skor yang lebih tinggi, maka orang tua, guru dan anak didik peduli juga dengan bagaimana cara supaya mencapai skor tersebut. Ada beberapa cara yang mungkin ditempuh. Bebarapa sekolah telah sejak dini mengadakan penambahan jam pelajaran, khususnya untuk membahas soal-soal UAN, UN atau Ebtanas pada tahun-tahun yang lalu. Orang tua yang punya duit lumaya, segera mengantarkan anaknya ke Lembaga Bimbingan Belajar. Maka selama semenjak bulan Januari 2008 berbagai lembaga Bimbel denga gencar menebarkan jala selebar dan semenarik mungkin. Ada juga orang tua yang memanggil guru privat ke rumahnya dengan harapan keluarga bisa lebih memantau anaknya sekaligus pengajarnya.
Apakah pemerintah salah bila mereka menaikkan standar nilai kelulusan? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Pemerintah dapat dinilai salah bila mereka tidak memberikan program tindak lanjut yang jelas setelah mereka menemukan kondisi nilai pada tahun yang lalu. Bukankah salah satu tujuan dari UN/UAN/UASBN adalah untuk mendapatkan pemetaan. Pemerintah tahu daerah mana yang mempunyai nilai yang bagus, daerah mana yang kurang. Lebih spesifik lagi pemerintah mengetahui sekolah mana yang mempunyai nilai tinggi atau nilai rendah pada setiap mata pelajaran. Apa yang sudah dilakukan pemerintah setelah data itu didapat? Sayangnya, program itu kurang nyata di lapangan. Atau setidak-tidaknya kurang terekspor ke masyarakat- anak didik, sekolah dan orang tua.Secara global itu dapat dilihat dari alokasi anggaran bidang pendidikan yang menurun. Hal ini berkaitan juga dengan pengajuan judicial review tentang anggaran pendidikan sebesar 20% yang tidak berpihak pada peningkatan penghargaan pada pendidikan nasional.
Pemerintah, melalui Mendiknas berkilah peningkatan nilai standar kelulusan ditujukan untuk meningkatkan standar pendidikan Indonesia. Dengan mematok nilai yang lebih tinggi diharapkan anak akan semakin termotivasi untuk belajar. Anak akan semakin rajin untuk berlatih soal, bertanya dan kalau bisa menemukan solusi kreatif.
Rasanya, perbedaan pendapat/pemahaman pemerintah dan masyaraka yang mengarah pada perbedaan perlakuan kebijakan belumlah mendapat titik temu. Bagaimanapun, orang tua dan anak didik yang paling merasakan akibat dari kebijakan Depdiknas tidak boleh hanya mendebat. Mereka harus bertindak. Belajar dengar lebih giat, belajar dengan lebih cerdas dan kreatif. Tujuan utama bukanlah untuk mensukseskan program pemerintah, tetapi terutama untuk merebut nilai tertinggi yang dapat dicapai sesuai potensi terbaik dalam diri. Selamat berjuang!