Niat saya untuk merambah dunia bisnis baru sebenarnya sudahlah bulat. Akan tetapi, karena berbagai kondisi seperti sulitnya untuk fokus sehubungan dengan kurangnya modal dan lamanya proses mendapatkan penjualan, ditambah dengan waktu yang fleksibel sekaligus kosong, maka saya mengambil kesempatan untuk kerja sampingan sebagai guru. Walaupun saya mengajar di dalam kelas di Sekolah Advent Jatinegara, tapi kondisinya lebih longgar. Saya diminta untuk mengajar bahasa Inggris dalam format English Club. Fokus utamanya adalah untuk memberikan dorongan kepada para siswa untuk berbicara dalam bahasa Inggris.
Pada waktu wawancara, saya katakan kepada Kepala Sekolahnya bahwa saya akan menyediakan waktu 2 hari dalam seminggu. Setelah diatur dan dipertimbangkan, ternyata waktu tidak cukup hanya 2 hari. Perlu tambahan minimal satu hari lagi. Mengingat kelas yang akan saya tangani berjumlah 9 kelas, masing-masing 1 kelas dari kelas 1 sampai kelas 9 (3 SMP). Jadilah saya hadir pada hari Selasa, Rabu dan Jumat. Pelajaran English Club berlangsung dari pukul 11.00 sampai pukul 15.00 (khusus hari Selasa).
Mengajar kembali bermakna ganda bagi saya. Pertama, saya kembali memelihara kemampuan bahasa Inggris khususnya berhadapan dengan siswa. Sementara itu, saya dapat menyalurkan minat untuk memberikan pendidikan sekaligus memperhatikan dan mengasihi anak-anak tersebut. Kedua, saya mendapatkan imbalan yang cukup pantas. Ini bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sekaligus tambahan untuk modal kerja di bidang properti.
Dengan demikian, saya tetap menjaga konsistensi untuk bekerja di 3 bidang utama yaitu pendidikan, multi media dan bisnis (properti). Pada saatnya nanti, saya akan beranjak dari posisi sebagai karyawan saja bergerak menjadi seorang employer, owner atau businesman. Inilah yang disebut oleh Robert T. Kiyosaki dengan pindah kuadran atau menginjakkan kaki di dua kuadran. Dengan bahasa lain mempunyai Prime Source Income dan Multi Source Income.
6.11.08
PERLU MODAL LEBIH
Waktu saya menyatakan niat untuk terlibat dalam bisnis properti, kakak saya berkata,"Lam, bisnis itu perlu modal banyak!" Tadinya, saya anggap pernyataan itu hanya sebagai peringatan untuk lebih bersiap diri. Memang sih, bisnis apa sih yang tidak memerlukan modal?
Saat ini, saya merasakan unsur kebenaran perkataan tsb. Pengeluaran yang wajib pastinya adalah untuk biaya/ongkos transportasi, beli pulsa untuk bertelepon dan iklan di media massa. Itu biaya yang tidak boleh tidak keluar.
Padahal langkah awal untuk bisnis properti ini adalah mencari listing, baik listing eksklusif maupun listing open. Setelah bertelepon kepada calon penjual atau pemilik, kita sebagai Marketing Associate harus memastikan bukti fisik properti tsb dalam keadaan layak jual. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi lokasi. Anggaplah kita mendapat persetujuan dan dia bersedia jadi listing, tugas selanjutnya adalah memasarkannya. Media pemasaran yang paling luas adalah melalui iklan di surat kabar atau menampilkannya dalam internet misalnya dalam www. rumah123.com. Lalu, bila ada calon pembeli serius, kita harus mendampingi dia pergi ke lokasi. Semua itu membutuhkan dana lancar yang tidak bisa ditunda.
Menyikapi hal ini, Pak Fredi Dharmawan,mentor ERA Permata, menyatakan kita memang harus menyediakan anggaran khusus. Jumlahnya terserah. Yang penting, kita punya target untuk menggunakan dana tsb secara efisien untuk mencapai closing. Bila segala upaya telah kita lakukan dan ternyata anggaran kita habis tanpa pernah closing, ada kemungkinan kita kurang di cocok di bidang properti ini. Atau setidaknya, kita membuthkan suntikan modal lebih banyak disertai usaha lebih konstan dan memanfaatkan segala jaringan dan saluran pemasaran yang ada.
Bila hal itu terjadi, kita tidak perlu merasa sedih. Apalagi merasa gagal dalam hidup. Orang yang gagal adalah orang tidak pernah berhasil. Bila kita belum berhasil minimal sekali closing, itu berarti kita perlu introspeksi dalam aspek apa saja kita perlu lebih menata diri lagi. Jangan pernah patah semangat, apalagi patah hati. Kesempatan selalu terbuka bagi orang yang berusaha keras, bekerja tulus dan mengembangkan kreativitas.
Saat ini, saya merasakan unsur kebenaran perkataan tsb. Pengeluaran yang wajib pastinya adalah untuk biaya/ongkos transportasi, beli pulsa untuk bertelepon dan iklan di media massa. Itu biaya yang tidak boleh tidak keluar.
Padahal langkah awal untuk bisnis properti ini adalah mencari listing, baik listing eksklusif maupun listing open. Setelah bertelepon kepada calon penjual atau pemilik, kita sebagai Marketing Associate harus memastikan bukti fisik properti tsb dalam keadaan layak jual. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi lokasi. Anggaplah kita mendapat persetujuan dan dia bersedia jadi listing, tugas selanjutnya adalah memasarkannya. Media pemasaran yang paling luas adalah melalui iklan di surat kabar atau menampilkannya dalam internet misalnya dalam www. rumah123.com. Lalu, bila ada calon pembeli serius, kita harus mendampingi dia pergi ke lokasi. Semua itu membutuhkan dana lancar yang tidak bisa ditunda.
Menyikapi hal ini, Pak Fredi Dharmawan,mentor ERA Permata, menyatakan kita memang harus menyediakan anggaran khusus. Jumlahnya terserah. Yang penting, kita punya target untuk menggunakan dana tsb secara efisien untuk mencapai closing. Bila segala upaya telah kita lakukan dan ternyata anggaran kita habis tanpa pernah closing, ada kemungkinan kita kurang di cocok di bidang properti ini. Atau setidaknya, kita membuthkan suntikan modal lebih banyak disertai usaha lebih konstan dan memanfaatkan segala jaringan dan saluran pemasaran yang ada.
Bila hal itu terjadi, kita tidak perlu merasa sedih. Apalagi merasa gagal dalam hidup. Orang yang gagal adalah orang tidak pernah berhasil. Bila kita belum berhasil minimal sekali closing, itu berarti kita perlu introspeksi dalam aspek apa saja kita perlu lebih menata diri lagi. Jangan pernah patah semangat, apalagi patah hati. Kesempatan selalu terbuka bagi orang yang berusaha keras, bekerja tulus dan mengembangkan kreativitas.
28.10.08
BAGAIMANA LULUS CUMLAUDE DARI HARDKNOCK UNIVERSITY?
Sejak tanggal 2 September 2008, saya mulai bergabung dalam bisnis property. Saya memilih bisnis ini karena memberikan kemungkinan untuk mendapatkan penghasilan yang melimpah. Selain itu, saya berharap berjumpa dengan orang-orang kaya dan sukses. Ketika berjumpa dengan mereka, saya akan dapat merasakan aura kekayaan mereka yang bukan hanya secara fisik-finansial, tetapi secara mental. Alasan ketiga terlibat di bisnis ini adalah karena syarat masuknya yang tidak macam-macam. Sangat simple. Cukup ikut training selama 4 hari. Setelah itu bekerja di lapangan. Cara kerjanya sudah ditetapkan perusahaan property ERA. Waktunya sangat fleksibel. Mereka memberi kebebasan untuk menentukan target, waktu kerja, dsb. Diibaratkan kita bukan sebagai karyawan tetapi sebagai partner. Makanya kita dinamakan sebagai MARKETING ASSOCIATES (MA). Menurut mentor Pak Fredi Dharmawan, MA harus memposisikan diri sebagai pengusaha, entrepreneur yang punya kebebasan, kreativitas, target dan daya tahan untuk mencapai target tsb.
Di lain pihak, bekerja sebagai layaknya pengusaha ini mengandung risiko kegagalan yang sangat tinggi. Sehubungan dengan kebabasan, kita diharapkan dapat menata diri, mengatur waktu dan kegiatan dengan cermat. Penggunaan segala sumber daya harus dikontrol sendiri. Karena itu, perlu sekali efisiensi dan efektivitas. Sehubungan dengan kreativitas, tidak ada batasan untuk menerapkannya dalam aktivitas bisnis. Tapi sebelum melangkah ke sana, sangat diperlukan pemahaman yang mendalam tentang sistem ERA secara menyeluruh. Untuk itu, tidak ada pendampingan secara khusus. Memang ada mentoring, tetapi kemandirian, independensi sangatlah mutlak. Sehubungan dengan modal usaha, usaha ERA membutuhkan anggaran yang cukup besar. Setidaknya untuk transportasi, pulsa telepon, membuat spanduk, brosur, memasang iklan di koran maupun internet. Semua modal sendiri dulu yang keluar. Member broker tidak mengeluarkan biaya awal selain nge-print dan telepon rumah (kalau menelepon dari kantor). Masalah modal ini sangat signifikan berpengaruh terutama karena pada seminar awal dikatakan biaya spanduk dan iklan ditanggung oleh member broker. Dan satu faktor lain, mentalitas. Mentalitas yang percaya diri, bertanggung jawab, berpikir positif, orientasi tindakan, kegigihan adalah hal mesti dibangun dan dikembangkan terus menerus.
Bergabung dalam ERA, khususnya ERA Permata Senayan memberi nuansa baru bagi saya pribadi. Pekerjaan sebagai marketing, sales, pokoknya yang bersifat menjual dan menawarkan jasa atau barang merupakan salah satu bidang pekerjaan yang lama saya hindari. Tetapi karena melihat peluang yang ditawarkan, apa boleh buat saya pun melibatkan diri. Apalagi saya sudah lama merasa seperti terkungkung di bidang yang cukup stabil tetapi tidak menyenangkan secara finansial dan secara emosional. Secara finansial tidak memberi imbalan yang berarti. Secara emosional tidak memberi kepuasan dan tantangan kerja yang cukup berarti.
Tiba di ERA Permata Senayan, saya dan kawan-kawan yang lain ditawarkan tidak hanya menjalankan fungsi sebagai MA untuk property, tetapi juga bidang loan (pinjaman). Bidang keuangan ini makin memperrumit pikiran saya karena saya tidak begitu familiar dengan hitung-menghitung serta istilah-istilah yang ada di dalamnya. Tapi semua itu mau tidak mau harus diakrabi.
Rasanya sudah sangat jamak kalau tingkat turn over di bidang pemasaran sangatlah tinggi. Banyak yang muntaber (mundur tanpa berita), banyak yang tidak cukup kuat, tidak sabar mendapatkan closing, dan banyak juga yang kehabisan amunisi (berupa uang, ide, dan tenaga). Memang benarlah apa yang dikatakan oleh Pak Fredi, bisnis property khususnya di ERA Permata adalah ibarat belajar di kampus HARD KNOCK UNIVERSITY. Bukan HARVARD UNIVERSITY.
Belajar berlangsung di kelas mentoring paling-paling 2 jam per Minggu. Selebihnya langsung terjun di lapangan. Canvassing, menyebarkan brosur, menelepon, mengunjungi property, membuat analisa harga,bertemu dengan calon penjual dan pembeli, memasang spanduk, memasang iklan, dsb. Semua itu adalah mata kuliah yang wajib diambil. Soalnya semua sama. Penyelesaian tergantung dari kreativitas, keberanian, kegigihan serta fleksibilitas bersikap dan bertindak. Tidak ada yang mengawasi dan memberi nilai. Tapi setiap gerak gerik, pikiran, tindakan dan perkataan akan berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kelulusan.
Masa belajar tidak lama. Tidak ada hitungan tahun, cukup semester. Itupun bukan 8 semester untuk s1 atau 6 semester untuk d3. Waktu efektif cukup 6 bulan, malah ada yang mau hanya 3 bulan. Waktu selama itu dianggap memadai untuk belajar segala seluk beluk properti. Tidak perlu menyelesaikan 144 SKS, apalagi membuat skripsi segala. Yang dinilai adalah SATU, TRANSAKSI. Transaksi berarti ada peristiwa jual beli atau sewa properti yang difasilitasi oleh sang MARKETING ASSOCIATE. Dengan adanya transaksi akan mengalirlah KOMISI. Komisi inilah yang menjadi pemicu utama bagi seorang MARKETING ASSOCIATE untuk berusaha.
Karena itu, tidaklah mengherankan bila mentor atau member broker selalu menekankan pentingnya motivasi. Salah satu unsur pembentuk motivasi ini adalah setting goal, menetapkan sasaran yang SMART. Nantinya, sasaran itu dibreak down dalam dalam program, rencana tindakan per minggu dan per hari. Pada titik ini, akan terlihat gambaran seberapa jelas dan seberap kuat tekad untuk mencapai target untuk lulus dengan nilai cumlaude.
Kalau orang kampus mendapat cumlaude bila mempunyai indeks prestasi lebih dari 3,75 maka nilai cumlaude di bisnis property adalah bila dia berhasil melebihi target SMART dengan sukses secara konsisten.
Di lain pihak, bekerja sebagai layaknya pengusaha ini mengandung risiko kegagalan yang sangat tinggi. Sehubungan dengan kebabasan, kita diharapkan dapat menata diri, mengatur waktu dan kegiatan dengan cermat. Penggunaan segala sumber daya harus dikontrol sendiri. Karena itu, perlu sekali efisiensi dan efektivitas. Sehubungan dengan kreativitas, tidak ada batasan untuk menerapkannya dalam aktivitas bisnis. Tapi sebelum melangkah ke sana, sangat diperlukan pemahaman yang mendalam tentang sistem ERA secara menyeluruh. Untuk itu, tidak ada pendampingan secara khusus. Memang ada mentoring, tetapi kemandirian, independensi sangatlah mutlak. Sehubungan dengan modal usaha, usaha ERA membutuhkan anggaran yang cukup besar. Setidaknya untuk transportasi, pulsa telepon, membuat spanduk, brosur, memasang iklan di koran maupun internet. Semua modal sendiri dulu yang keluar. Member broker tidak mengeluarkan biaya awal selain nge-print dan telepon rumah (kalau menelepon dari kantor). Masalah modal ini sangat signifikan berpengaruh terutama karena pada seminar awal dikatakan biaya spanduk dan iklan ditanggung oleh member broker. Dan satu faktor lain, mentalitas. Mentalitas yang percaya diri, bertanggung jawab, berpikir positif, orientasi tindakan, kegigihan adalah hal mesti dibangun dan dikembangkan terus menerus.
Bergabung dalam ERA, khususnya ERA Permata Senayan memberi nuansa baru bagi saya pribadi. Pekerjaan sebagai marketing, sales, pokoknya yang bersifat menjual dan menawarkan jasa atau barang merupakan salah satu bidang pekerjaan yang lama saya hindari. Tetapi karena melihat peluang yang ditawarkan, apa boleh buat saya pun melibatkan diri. Apalagi saya sudah lama merasa seperti terkungkung di bidang yang cukup stabil tetapi tidak menyenangkan secara finansial dan secara emosional. Secara finansial tidak memberi imbalan yang berarti. Secara emosional tidak memberi kepuasan dan tantangan kerja yang cukup berarti.
Tiba di ERA Permata Senayan, saya dan kawan-kawan yang lain ditawarkan tidak hanya menjalankan fungsi sebagai MA untuk property, tetapi juga bidang loan (pinjaman). Bidang keuangan ini makin memperrumit pikiran saya karena saya tidak begitu familiar dengan hitung-menghitung serta istilah-istilah yang ada di dalamnya. Tapi semua itu mau tidak mau harus diakrabi.
Rasanya sudah sangat jamak kalau tingkat turn over di bidang pemasaran sangatlah tinggi. Banyak yang muntaber (mundur tanpa berita), banyak yang tidak cukup kuat, tidak sabar mendapatkan closing, dan banyak juga yang kehabisan amunisi (berupa uang, ide, dan tenaga). Memang benarlah apa yang dikatakan oleh Pak Fredi, bisnis property khususnya di ERA Permata adalah ibarat belajar di kampus HARD KNOCK UNIVERSITY. Bukan HARVARD UNIVERSITY.
Belajar berlangsung di kelas mentoring paling-paling 2 jam per Minggu. Selebihnya langsung terjun di lapangan. Canvassing, menyebarkan brosur, menelepon, mengunjungi property, membuat analisa harga,bertemu dengan calon penjual dan pembeli, memasang spanduk, memasang iklan, dsb. Semua itu adalah mata kuliah yang wajib diambil. Soalnya semua sama. Penyelesaian tergantung dari kreativitas, keberanian, kegigihan serta fleksibilitas bersikap dan bertindak. Tidak ada yang mengawasi dan memberi nilai. Tapi setiap gerak gerik, pikiran, tindakan dan perkataan akan berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kelulusan.
Masa belajar tidak lama. Tidak ada hitungan tahun, cukup semester. Itupun bukan 8 semester untuk s1 atau 6 semester untuk d3. Waktu efektif cukup 6 bulan, malah ada yang mau hanya 3 bulan. Waktu selama itu dianggap memadai untuk belajar segala seluk beluk properti. Tidak perlu menyelesaikan 144 SKS, apalagi membuat skripsi segala. Yang dinilai adalah SATU, TRANSAKSI. Transaksi berarti ada peristiwa jual beli atau sewa properti yang difasilitasi oleh sang MARKETING ASSOCIATE. Dengan adanya transaksi akan mengalirlah KOMISI. Komisi inilah yang menjadi pemicu utama bagi seorang MARKETING ASSOCIATE untuk berusaha.
Karena itu, tidaklah mengherankan bila mentor atau member broker selalu menekankan pentingnya motivasi. Salah satu unsur pembentuk motivasi ini adalah setting goal, menetapkan sasaran yang SMART. Nantinya, sasaran itu dibreak down dalam dalam program, rencana tindakan per minggu dan per hari. Pada titik ini, akan terlihat gambaran seberapa jelas dan seberap kuat tekad untuk mencapai target untuk lulus dengan nilai cumlaude.
Kalau orang kampus mendapat cumlaude bila mempunyai indeks prestasi lebih dari 3,75 maka nilai cumlaude di bisnis property adalah bila dia berhasil melebihi target SMART dengan sukses secara konsisten.
12.9.08
MEMASARKAN DIRI
Setiap perusahaan pastilah mempunyai bagian pemasaran. Kalau pun bukan bagian pemasaran, tentunya ada orang yang ditunjuk untuk menjalankan fungsi pemasaran.Yang dipasarkan adalah keunggulan perusahaan dalam menyediakan jasa atau barang, kualifikasi para karyawan sampai jajaran manajemen, serta reputasi yang sudah terbentuk selama ini.
Bagaimana dengan memasarkan diri sendiri? Justru hal inilah yang sering menjadi masalah terselubung yang dihadapi para pemasar. Bukanlah sejauh mana dia menguasai product knowledge atau strategi pemasaran, segmen pasar yang dituju tetapi lebih banyak pada diri sang pemasar.
Memasarkan diri berarti mengetahui dengan seksama di mana kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Usaha mengenali diri terutama untuk menemukan kekuatan atau kelebihan pribadi sangatlah sulit. Kalau kita coba untuk membuat atau menulis daftar, dijamin bahwa daftar kekurangan lebih banyak dari daftar kelebihan. Ini mungkin karena pengaruh dari kondisi bangsa Indonesia yang lebih mudah menemukan hal buruk. Faktor negatif dalam diri orang lain maupun dalam diri sendiri.
Hermawan Kertajaya, salah satu dari 50 guru pemasaran dunia, dalam bukunya yang mungil Marketing Yourself menyebutkan bahwa setiap orang yang memasarkan diri perlu mengenali PDB(Positioning, Differentiation, Brand). Ketiganya membentuk bangun segitiga yang saling mempengaruhi dan saling menopang.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan perlunya setiap orang menerapkan 9 prinsip pemasaran yaitu segmentation, targeting, positioning, differentiation, marketing mix, selling, brand, service dan proses.
Masih dalam bukunya, Hermawan Kertajaya menyebutkan beberapa orang yang berhasil memasarkan diri sehingga maksimal antara lain AA Gym, Purdhi Chandra, Chrisye Robby Johan,Tanadi Santosa, danDewi Lestari. Mereka sukses mengekplor diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tetap setia dengan keunggulan utama yang selama ini dirasakan paling kuat dalam dirinya.
Memasarkan diri dalam bisnis dan dalam karir serta dalam hubungan pribadi agaknya memiliki sedikit perbedaan. Khususnya bagaimana untuk memasarkan diri kepada lawan jenis. Masalah timbul karena adanya unsur emosional yang kuat. Padahal dalam hubungan pribadi ini, respons dan aksi emosional itu spontan terlihat dan susah untuk dikontrol. Sedangkan, pada sisi yang berbeda kita perlu menjaga image di depan sang impian.
Biarpun begitu, tampaknya faktor keyakinan diri, mental positif, kejujuran, berpikir terbuka serta kesediaan untuk menanggung risiko dan tanggung jawab merupakan faktor kunci dalam memasarkan diri. Tidak hanya dalam bisnis, karir tapi juga dalam hubungan percintaan.
Bagaimana dengan memasarkan diri sendiri? Justru hal inilah yang sering menjadi masalah terselubung yang dihadapi para pemasar. Bukanlah sejauh mana dia menguasai product knowledge atau strategi pemasaran, segmen pasar yang dituju tetapi lebih banyak pada diri sang pemasar.
Memasarkan diri berarti mengetahui dengan seksama di mana kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Usaha mengenali diri terutama untuk menemukan kekuatan atau kelebihan pribadi sangatlah sulit. Kalau kita coba untuk membuat atau menulis daftar, dijamin bahwa daftar kekurangan lebih banyak dari daftar kelebihan. Ini mungkin karena pengaruh dari kondisi bangsa Indonesia yang lebih mudah menemukan hal buruk. Faktor negatif dalam diri orang lain maupun dalam diri sendiri.
Hermawan Kertajaya, salah satu dari 50 guru pemasaran dunia, dalam bukunya yang mungil Marketing Yourself menyebutkan bahwa setiap orang yang memasarkan diri perlu mengenali PDB(Positioning, Differentiation, Brand). Ketiganya membentuk bangun segitiga yang saling mempengaruhi dan saling menopang.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan perlunya setiap orang menerapkan 9 prinsip pemasaran yaitu segmentation, targeting, positioning, differentiation, marketing mix, selling, brand, service dan proses.
Masih dalam bukunya, Hermawan Kertajaya menyebutkan beberapa orang yang berhasil memasarkan diri sehingga maksimal antara lain AA Gym, Purdhi Chandra, Chrisye Robby Johan,Tanadi Santosa, danDewi Lestari. Mereka sukses mengekplor diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tetap setia dengan keunggulan utama yang selama ini dirasakan paling kuat dalam dirinya.
Memasarkan diri dalam bisnis dan dalam karir serta dalam hubungan pribadi agaknya memiliki sedikit perbedaan. Khususnya bagaimana untuk memasarkan diri kepada lawan jenis. Masalah timbul karena adanya unsur emosional yang kuat. Padahal dalam hubungan pribadi ini, respons dan aksi emosional itu spontan terlihat dan susah untuk dikontrol. Sedangkan, pada sisi yang berbeda kita perlu menjaga image di depan sang impian.
Biarpun begitu, tampaknya faktor keyakinan diri, mental positif, kejujuran, berpikir terbuka serta kesediaan untuk menanggung risiko dan tanggung jawab merupakan faktor kunci dalam memasarkan diri. Tidak hanya dalam bisnis, karir tapi juga dalam hubungan percintaan.
22.8.08
BERANI BERUBAH
Kesuksesan seseorang bisa dilihat dari kondisi aktualnya dibandingkan dengan potensi yang melekat pada dirinya.Bila ditemukan kondisi aktual yang tidak sesuai dengan kecenderungan umum, maka sangat pantas dipertanyakan di manakah dia hadir ketika orang/kelompok/organisasi sedang memerlukannya.
Untuk mengeluarkan potensi dan mengubahnya menjadi kondisi aktual tidaklah mudah. Diperlukan sejumlah pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran dan emosi.Intinya, berani berubah. Tentu saja segala macam risiko harus diperhitungkan. Itulah harga yang harus dibayar.
Tapi yakinlah, dengan keberanian untuk berubah peluang untuk lebih baik pastilah lebih besar daripada terus-menerus memeluk keadaan yang lalu di mana potensi hanya tertidur dan bisa jadi potensi itu akan menyusut. Keberanian untuk memaksimalkan potensi diri akan dihargai dengan perubahan yang positif yang membawa kepuasan, kekayaan dan kesejahteraan.
Untuk mengeluarkan potensi dan mengubahnya menjadi kondisi aktual tidaklah mudah. Diperlukan sejumlah pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran dan emosi.Intinya, berani berubah. Tentu saja segala macam risiko harus diperhitungkan. Itulah harga yang harus dibayar.
Tapi yakinlah, dengan keberanian untuk berubah peluang untuk lebih baik pastilah lebih besar daripada terus-menerus memeluk keadaan yang lalu di mana potensi hanya tertidur dan bisa jadi potensi itu akan menyusut. Keberanian untuk memaksimalkan potensi diri akan dihargai dengan perubahan yang positif yang membawa kepuasan, kekayaan dan kesejahteraan.
17.7.08
KELUARA DARI ZONA NYAMAN
Setiap orang mempunyai zona nyaman sendiri. Zona nyaman yang dimaksud adalah tempat, kegiatan, pekerjaan, teman dsb. yang begitu dinikmati dan menyenangkan yang membuat dia terlena sehingga tidak mau berusaha. Baginya tidak ada lagi usaha untuk mencapai sesuatu yang lebih- lebih baik, kaya, cerdas, cantik.Ironisnya, tingkat pencapaiannya belumlah cukup baik bila dibandingka dengan orang atau pihak lain. Bahkan bila dibandingkan dengan potensi terbaiknya, prestasinya saat ini belumlah berarti apa-apa.
Dengan demikian, zona nyaman bisa membuat orang terlena. Pada dasarnya orang yang terjebak dalam zona nyaman tidak menginginkan perubahan. Perubahan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia menolak perubahan karena takut kehilangan kenikmatan yang selama ini secara otomatis ada dalam jangkauannya.
Zona nyaman tidak boleh berlama-lama ditinggali. Harus segera ada tindakan untuk beralih. Hal utama yang perlu dibenahi adalah cara berpikir-mindset. Masih banyak hal yang perlu dikejar dalam hidup ini. Untuk itu dibutuhkan aksi-aksi baru. Langkah pertama adalah segera beranjak dari tempat, bergegas menuju target terbaru yang lebih menantang. Yang lebih merangsang pemanfaatan segala potensi yang dimiliki. Mula-mula potensi yang paling terasa dan nyata akan spontan tereksplor. Kemudian, potensi yang tertutup akan menyusul untuk ditampilkan.
Saat ini, saya merasa profesi sebagi guru tidak cukup memberikan kepuasan. Semua orang tahu, kalau dari segi fisik material hidup sebagai guru tidak memberikan sesuatu yang menjanjikan. Karena itu, yang dikejar orang kebanyakan adalah segi idealisme untuk mengajar dan membangkitkan kemampuan otak anak didik. Juga terjalinnya hubungan sosial yang erat dengan anak didik dan orang tua. Tapi sayang, hal ini tidak cukup kuat menahan saya untuk mencari tanggung jawab yang lebih besar sekaligus kesempatan yang lebih besar untuk maju.
Pilihan profesi yang ada di benak saya adalah menjadi penulis, pelatih/pembicara, penjual dan pengusaha. Inventarisasi sementara menunjukkan saya lebih siap untuk menjadi penulis. Tetapi, sasaran jangka panjang saya adalah menjadi pengusaha. Tidak jauh-jauh, pengusaha di bidang yang berkaitan dengan dunia pendidikan, penerbitan dan pelatihan sumber daya manusia. Tetapi, saya juga membutuhkan keterampilan untuk menjual. Makanya, ketiganya-penulis, penjual, pengusaha- akan saya tekuni dengan titik fokus utama menjadi penulis.
Saya yakin bisa sukses di bidang ini dengan latihan tekun, belajar dari penulis-penulis besar serta mengembangkan kebiasaan efektif menjadi seorang penulis profesional. Guru-guru itu misalnya Jack Canfield, James C. Maxwell, Anthony Robbins, Robert K. Kiyosaki. Dari dalam negeri juga ada. Mereka adalah Andrias Harefa, Edy Zaqeus, Hernowo, Bambang Trim,Rhenald Kesali dan Adi W. Gunawan.
Dengan demikian, zona nyaman bisa membuat orang terlena. Pada dasarnya orang yang terjebak dalam zona nyaman tidak menginginkan perubahan. Perubahan menjadi sesuatu yang menakutkan. Dia menolak perubahan karena takut kehilangan kenikmatan yang selama ini secara otomatis ada dalam jangkauannya.
Zona nyaman tidak boleh berlama-lama ditinggali. Harus segera ada tindakan untuk beralih. Hal utama yang perlu dibenahi adalah cara berpikir-mindset. Masih banyak hal yang perlu dikejar dalam hidup ini. Untuk itu dibutuhkan aksi-aksi baru. Langkah pertama adalah segera beranjak dari tempat, bergegas menuju target terbaru yang lebih menantang. Yang lebih merangsang pemanfaatan segala potensi yang dimiliki. Mula-mula potensi yang paling terasa dan nyata akan spontan tereksplor. Kemudian, potensi yang tertutup akan menyusul untuk ditampilkan.
Saat ini, saya merasa profesi sebagi guru tidak cukup memberikan kepuasan. Semua orang tahu, kalau dari segi fisik material hidup sebagai guru tidak memberikan sesuatu yang menjanjikan. Karena itu, yang dikejar orang kebanyakan adalah segi idealisme untuk mengajar dan membangkitkan kemampuan otak anak didik. Juga terjalinnya hubungan sosial yang erat dengan anak didik dan orang tua. Tapi sayang, hal ini tidak cukup kuat menahan saya untuk mencari tanggung jawab yang lebih besar sekaligus kesempatan yang lebih besar untuk maju.
Pilihan profesi yang ada di benak saya adalah menjadi penulis, pelatih/pembicara, penjual dan pengusaha. Inventarisasi sementara menunjukkan saya lebih siap untuk menjadi penulis. Tetapi, sasaran jangka panjang saya adalah menjadi pengusaha. Tidak jauh-jauh, pengusaha di bidang yang berkaitan dengan dunia pendidikan, penerbitan dan pelatihan sumber daya manusia. Tetapi, saya juga membutuhkan keterampilan untuk menjual. Makanya, ketiganya-penulis, penjual, pengusaha- akan saya tekuni dengan titik fokus utama menjadi penulis.
Saya yakin bisa sukses di bidang ini dengan latihan tekun, belajar dari penulis-penulis besar serta mengembangkan kebiasaan efektif menjadi seorang penulis profesional. Guru-guru itu misalnya Jack Canfield, James C. Maxwell, Anthony Robbins, Robert K. Kiyosaki. Dari dalam negeri juga ada. Mereka adalah Andrias Harefa, Edy Zaqeus, Hernowo, Bambang Trim,Rhenald Kesali dan Adi W. Gunawan.
11.7.08
Secuil Potret PSB SMK
Selama ini saya hanya mendengar berita betapa sulitnya orang tua untuk mencari sekolah yang cocok bagi putra-putrinya.Kala itu saya berpikir apakah memang para orang tua ini hanya ingin anaknya cepat-cepat dapat sekolah atau karena mereka tidak bersedia menjalankan setiap tahapan dalam mendaftarkan anak dalam PSB (Penerimaan Siswa Baru).
Sekarang saya baru merasakan sendiri. Ketika ada seorang keponakan ngotot mau sekolah di Jakarta, saya langsung angkat topi kepadanya. Walaupun tanggapan saya tidak langsung sampai kepada yang bersangkutan, tetapi saya mencoba untuk mencari informasi. Pegangannya hanya satu, Jos, demikian nama anak itu mau masuk SMK di Jakarta. Alasannya, kalau dia bertahan sekolah lebih lama di Lintongnihuta, Humbang Hasundutan, mungkin sekali dia akan rusak. Pergaulan dengan teman lebih banyak negatifnya. Karena dia mau maju, maka tempat yang paling tepat adalah Jakarta. Dan di Jakarta dia punya cukup banyak saudara-opung, tulang, uda, namboru.
Tentu saja saya mencari informasi sekolah mana yang bagus di daerah Jakarta Timur, khususnya Kecamatan Kramat Jati. Maksudnya supaya dekat ke rumah. Irit ongkos dan waktu.Tapi yang pasti, SMK dimaksud cukup berkualitas baik.
Yang paling dekat adalah SMKN 10, hanya berjarakk 300 meter dari rumah. Tapi karena sekolah favorit, standar nilainya amat tinggi. NEM rata-rata harus minimal 8. Padahal, si Jos menurut saya agak susah untuk mendapat poin setinggi itu. Ditambah lagi, ketentuan Pemerintah DKI Jakarta untuk mengenakan persyaratan tambahan yang lebih berat bagi anak yang berasal dari luar Jakarta. Konkritnya, siswa luar Jakarta dituntut untuk mempunyai nilai rata-rata 1 poin lebih tinggi. Itupun hanya untuk 5% dari total jumlah kursi.
Tidak ada jalan lain, harus mencari sekolah swasta tapi berkualitas. Ditemukanlah sebuah SMK di daerah Halim.Saya ambil formulir pada hari Senin, 7 Juli 08 sekitar pukul 11.00. Sesuai dengan dugaan, pendaftar ke sekolah itu memang banyak. Formulir pendaftar untuk yang masuk pagi sudah habis. Otomatis saya mengambil formulir untuk yang masuk siang. Oleh petugas, disarankan untuk cepat-cepat kembali dengan membawa persyaratan dan mengisi formulir.
Sayangnya, si Jos baru berangkat pada hari yang sama sore harinya. Karena keterbatasan biaya, dia harus berbesar hati untuk naik bis PMH. Berangkat sore hari dari Siborongborong yang berjarak 1/3 jam perjalanan dari Hutabaris. Bagaimana mungkin saya mendaftar lebih cepat, data-data Jos serta rapot dan KHN masih dipegangnya. Belum lagi, saya menunggu suply uang pendaftaran dari tulang/pamannya.Walaupun begitu, saya tidak khawatir karena formulir sudah di tangan. Jos dan uang akan tiba pada hari Kamis. Masih ada waktu, Jumat dan Sabtu sesuai dengan ketentuan waktu di brosur dalam map pendaftaran.
Alangkah kagetnya saya, ketika mendapati sekolah swasta itu menyatakan penerimaan siswa sudah tutup. Alasannya tunggal, kursi sudah penuh. Tambah sedih lagi, ukuran penuh ada siswa yang sudah membayar terlebih dahulu itulah yang diterima. Pada waktu pengambilan brosur, tidak dinyatakan secara transparan kriteria penerimaan siswa. Kita sebagai orang tua/wali sudah merasa aman dengan memegang formulir di tangan. Yang jelas, mereka menjual sejumlah formulir yang melebihi daya tampung. Itu masuk akal karena mereka mau mendapat keuntungan dari penjualan formulir. Selain itu, mereka memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat.Wajar saja, rekan-rekan orang tua/wali yang mengalami nasib sial ini meradang.
Kita bukannya tidak niat untuk menyekolahkan anak ke sini, tapi karena harus berupaya untuk terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang dimaksud berupa sejumlah dokumen dan uang.Tentu saja hal ini sangat memukul orang tua/wali dan anak. Mau tidak mau, kita berpikir berarti hanya yang punya uang lebih banyak dan lebih cepatlah yang paling berhak menikmati asam manisnya pendidikan.
Memang sih, masih ada kemungkinan untuk mencari sekolah lain. Yang kita sesalkan adalah caranya. Kita tidak bisa terima tersisih hanya karena "terlambat" mengembalikan formulir. Pihak sekolah tidak memberikan ketentuan yang jelas dan lugas yang bisa dianggap fair.
Dalam kondisi demikian, saya cuma berharap ada kebijakan yang lebih manusiawi. Artinya, paling tidak diberikan kesempatan untuk masuk dalam daftar tunggu. Semacam cadangan, siapa tahu ada yang mengundurkan diri atau terjadi sesuatu halangan.
Inilah secuil potret dunia pendidikan kita. Manajemen penerimaan siswa baru saja tidak beres, apalagi dalam proses belajar-mengajar, ujian serta kualitas lulusannya.
Sekarang saya baru merasakan sendiri. Ketika ada seorang keponakan ngotot mau sekolah di Jakarta, saya langsung angkat topi kepadanya. Walaupun tanggapan saya tidak langsung sampai kepada yang bersangkutan, tetapi saya mencoba untuk mencari informasi. Pegangannya hanya satu, Jos, demikian nama anak itu mau masuk SMK di Jakarta. Alasannya, kalau dia bertahan sekolah lebih lama di Lintongnihuta, Humbang Hasundutan, mungkin sekali dia akan rusak. Pergaulan dengan teman lebih banyak negatifnya. Karena dia mau maju, maka tempat yang paling tepat adalah Jakarta. Dan di Jakarta dia punya cukup banyak saudara-opung, tulang, uda, namboru.
Tentu saja saya mencari informasi sekolah mana yang bagus di daerah Jakarta Timur, khususnya Kecamatan Kramat Jati. Maksudnya supaya dekat ke rumah. Irit ongkos dan waktu.Tapi yang pasti, SMK dimaksud cukup berkualitas baik.
Yang paling dekat adalah SMKN 10, hanya berjarakk 300 meter dari rumah. Tapi karena sekolah favorit, standar nilainya amat tinggi. NEM rata-rata harus minimal 8. Padahal, si Jos menurut saya agak susah untuk mendapat poin setinggi itu. Ditambah lagi, ketentuan Pemerintah DKI Jakarta untuk mengenakan persyaratan tambahan yang lebih berat bagi anak yang berasal dari luar Jakarta. Konkritnya, siswa luar Jakarta dituntut untuk mempunyai nilai rata-rata 1 poin lebih tinggi. Itupun hanya untuk 5% dari total jumlah kursi.
Tidak ada jalan lain, harus mencari sekolah swasta tapi berkualitas. Ditemukanlah sebuah SMK di daerah Halim.Saya ambil formulir pada hari Senin, 7 Juli 08 sekitar pukul 11.00. Sesuai dengan dugaan, pendaftar ke sekolah itu memang banyak. Formulir pendaftar untuk yang masuk pagi sudah habis. Otomatis saya mengambil formulir untuk yang masuk siang. Oleh petugas, disarankan untuk cepat-cepat kembali dengan membawa persyaratan dan mengisi formulir.
Sayangnya, si Jos baru berangkat pada hari yang sama sore harinya. Karena keterbatasan biaya, dia harus berbesar hati untuk naik bis PMH. Berangkat sore hari dari Siborongborong yang berjarak 1/3 jam perjalanan dari Hutabaris. Bagaimana mungkin saya mendaftar lebih cepat, data-data Jos serta rapot dan KHN masih dipegangnya. Belum lagi, saya menunggu suply uang pendaftaran dari tulang/pamannya.Walaupun begitu, saya tidak khawatir karena formulir sudah di tangan. Jos dan uang akan tiba pada hari Kamis. Masih ada waktu, Jumat dan Sabtu sesuai dengan ketentuan waktu di brosur dalam map pendaftaran.
Alangkah kagetnya saya, ketika mendapati sekolah swasta itu menyatakan penerimaan siswa sudah tutup. Alasannya tunggal, kursi sudah penuh. Tambah sedih lagi, ukuran penuh ada siswa yang sudah membayar terlebih dahulu itulah yang diterima. Pada waktu pengambilan brosur, tidak dinyatakan secara transparan kriteria penerimaan siswa. Kita sebagai orang tua/wali sudah merasa aman dengan memegang formulir di tangan. Yang jelas, mereka menjual sejumlah formulir yang melebihi daya tampung. Itu masuk akal karena mereka mau mendapat keuntungan dari penjualan formulir. Selain itu, mereka memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat.Wajar saja, rekan-rekan orang tua/wali yang mengalami nasib sial ini meradang.
Kita bukannya tidak niat untuk menyekolahkan anak ke sini, tapi karena harus berupaya untuk terlebih dahulu memenuhi persyaratan yang dimaksud berupa sejumlah dokumen dan uang.Tentu saja hal ini sangat memukul orang tua/wali dan anak. Mau tidak mau, kita berpikir berarti hanya yang punya uang lebih banyak dan lebih cepatlah yang paling berhak menikmati asam manisnya pendidikan.
Memang sih, masih ada kemungkinan untuk mencari sekolah lain. Yang kita sesalkan adalah caranya. Kita tidak bisa terima tersisih hanya karena "terlambat" mengembalikan formulir. Pihak sekolah tidak memberikan ketentuan yang jelas dan lugas yang bisa dianggap fair.
Dalam kondisi demikian, saya cuma berharap ada kebijakan yang lebih manusiawi. Artinya, paling tidak diberikan kesempatan untuk masuk dalam daftar tunggu. Semacam cadangan, siapa tahu ada yang mengundurkan diri atau terjadi sesuatu halangan.
Inilah secuil potret dunia pendidikan kita. Manajemen penerimaan siswa baru saja tidak beres, apalagi dalam proses belajar-mengajar, ujian serta kualitas lulusannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
