Saya diminta sebuah sekolah untuk membimbing anak siswanya untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Bahasa kerennya, conversation class. Yang ditekankan adalah keberanian siswa untuk mengutarakan apa pendapat, opini dan perasaannya dalam bahasa Inggris. Minimalisir untuk menulis! Tdak perlu terlalu ketat dalam memperhatikan grammar!
Arahan dan petunjuknya cukup singkat, serta mudah dimengerti. Tapi bagaimana menuangkannya dalam pelajaran di kelas?
Sebagai gambaran, anak-anak SD kelas 1 sampai kelas 6 mendapat 2 jam pelajaran selama seminggu. Pelajaran bahasa Inggris merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal(mulok). Akan tetapi, pihak sekolah merasa perlu menambahkan jam pelajaran bahasa Inggris di kelas. Untuk itu, langkah terbaik adalah membuat bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran ekstra kurikuler. Anak-anak dapat tambahan waktu untuk mengasah keterampilan berbahasa Inggris, sekaligus mendapat nilai dalam ekstra kurikuler.
Sebagai mulok, bahasa Inggris mendapat jatah waktu yang singkat. Konsekwensinya, komponen bahasa Inggris tidak tergarap dengan baik. Secara singkat, bahasa menuntut keterampilan dalam berbicara, mendengarkan, menulis dan membaca. Dalam conversation class tentu yang ditampilkan adalah berbicara dan mendengarkan. Akan tetapi, keempat keterampilan bahasa itu mempersyaratkan pengetahuan anak siswa terhadap misalnya struktur (structure/grammar) dan kosa kata (vocabulary). Untuk struktur akan lebih baik bila didapat dari kelas reguler bahasa Inggris. Sementara untuk kosa kata, bisa didapatkan dari berbagai sumber selain dari kelas reguler seperti dari lagu, tv, majalah, brosur, mendengar pembicaraan langsung dan sebagainya. Intinya, sebelum seseorang terlibat dalam conversation sudah seharusnya seseorang memiliki pengalaman berbahasa dengan orang lain.
Nyatanya, bagi seorang siswa SD pengalaman berbahasa Inggris mayoritas didapat dari pelajaran bahasa Inggris dari kelas. Masih susah baginya untuk menangkap intisari dari pengalaman berhasa dirinya dengan orang lain, pengalaman dirinya dengan media massa.
Untuk mengatasi ini, mau tidak mau sebagai pengajar dalam conversation class, saya selalu memperkenalkan kosa kata yang berkaitan dengan topik bahasan yang dipilih. Memang, hal ini memakan cukup banyak waktu. Akan tetapi, siswa dapat melihat bahwa rangkaian kosa kata yang terdiri dari kata ganti orang, kata kerja, kata keterangan (waktu, tempat, cara) dan kata sifat, mereka dapat mencobanya sendiri.
Setelah itu, saya menulis contoh rangkaian tanya jawab dalam bahasa Inggris sbagai contoh. Mula-mula siswa menirukan,membaca dan menulis (kadang-kadang) sesuai yang saya tulis. Tahap berikutnya, mereka mengubah bebarapa kata sesuai dengan kondisi nyata yang mereka alami/miliki.
Selain itu, pemakaian question word menjadi keharusan yang perlu mereka kenal dan terapkan.
Memang, anak SD bukanlah native speaker sebagaimana juga dengan gurunya. Untuk itu, perlu ditunjang dengan pembiasaan, penciptaan kondisi yang menunjang terbentuknya masyarakat yang berbahasa Inggris.
26.11.08
15.11.08
MEMOTIVASI DIRI
Menurut Daniel Goleman, kemampuan memotivasi diri merupakan salah satu bagian penting dari kecerdasan emosional. Ini berarti hanya orang-orang yang mampu memotivasi diri yang dianggap cerdas. Apakah hal ini bisa dipertanggungjawabkan?
Dalam hal motivasi, ada 2 sumber motivasi yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Dari namanya saja sudah jelas, motivasi internal berasal dari diri sendiri. Motivasi ini memanfaatkan apa yang terkandung dalam diri setiap orang. Apakah itu? Cita-cita yang sangat bersifat pribadi, rasa cinta dan sayang pada seseorang atau sesuatu, tekad kuat untuk menyenangkan atau membahagiakan seseorang, dsb. Sementara motivasi eksternal berasal dari luar diri. Motivasi ini mengisyaratkan adanya tawaran dari pihak lain yang yang memberikan dorongan atau tuntutan tertentu. Misalnya adalah hadiah yang ditawarkan, atau hukuman yang bakal diterima kalau tidak melalukan sesuatu.
Kemampuan memotivasi amat diperlukan apabila seseorang berada dalam kondisi kritis. Bila seseorang sedang terpuruk, dengan apakah dia akan bangkit kembali? Bisa juga dalam kondisi yang sangat nyaman, seseorang merasa tidak ada lagi yang perlu dikejar. Bagaimana caranya supaya dia dapat memacu diri untuk bekerja lebih baik lagi?
Semua itu dijawab dengan kemampuan memotivasi diri. Motivasi dari luar diri umumnya bersifat sementara dan berubah-ubah. Bila target tertentu telah terpenuhi, motivasi akan kendur. Tapi motivasi dari dalam, bisa bersifat lebih lestari. Dia bisa ditingkatkan setiap saat, tergantung dari bagaimana seseorang memberi makna yang berbeda atau baru terhadap suatu kondisi dan target yang akan dicapai. Apakah itu bermakna secara pribadi dan signifikan terhadap dirinya? Bila ya, dia akan selalu terjaga dalam kondisi puncak untuk menaklukkan rekor-rekor pribadi sebelumnya.
Dalam kaitan dengan itu, saat ini ada kesulitan yang menghadang. Bisnis properti yang saya masuki belum memberikan imbalan. Kongkritnya, belum ada transaksi, belum pernah closing. Bagaimana ini?Saya mencoba memotivasi diri dengan membaca-baca buku-buku motivasi, mencari bantuan yang relevan khususnya menyangkut permodalan dan peningkatan semangat.Selain itu, keinginan untuk memberikan sesuatu yang sedikit berbeda pada akhir tahun ini turut menjaga motivasi agar tetap tinggi. Pokoknya, perlu usaha ekstra untuk mempercepat moment penting, closing. Pecah telor deh.
Dalam hal motivasi, ada 2 sumber motivasi yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Dari namanya saja sudah jelas, motivasi internal berasal dari diri sendiri. Motivasi ini memanfaatkan apa yang terkandung dalam diri setiap orang. Apakah itu? Cita-cita yang sangat bersifat pribadi, rasa cinta dan sayang pada seseorang atau sesuatu, tekad kuat untuk menyenangkan atau membahagiakan seseorang, dsb. Sementara motivasi eksternal berasal dari luar diri. Motivasi ini mengisyaratkan adanya tawaran dari pihak lain yang yang memberikan dorongan atau tuntutan tertentu. Misalnya adalah hadiah yang ditawarkan, atau hukuman yang bakal diterima kalau tidak melalukan sesuatu.
Kemampuan memotivasi amat diperlukan apabila seseorang berada dalam kondisi kritis. Bila seseorang sedang terpuruk, dengan apakah dia akan bangkit kembali? Bisa juga dalam kondisi yang sangat nyaman, seseorang merasa tidak ada lagi yang perlu dikejar. Bagaimana caranya supaya dia dapat memacu diri untuk bekerja lebih baik lagi?
Semua itu dijawab dengan kemampuan memotivasi diri. Motivasi dari luar diri umumnya bersifat sementara dan berubah-ubah. Bila target tertentu telah terpenuhi, motivasi akan kendur. Tapi motivasi dari dalam, bisa bersifat lebih lestari. Dia bisa ditingkatkan setiap saat, tergantung dari bagaimana seseorang memberi makna yang berbeda atau baru terhadap suatu kondisi dan target yang akan dicapai. Apakah itu bermakna secara pribadi dan signifikan terhadap dirinya? Bila ya, dia akan selalu terjaga dalam kondisi puncak untuk menaklukkan rekor-rekor pribadi sebelumnya.
Dalam kaitan dengan itu, saat ini ada kesulitan yang menghadang. Bisnis properti yang saya masuki belum memberikan imbalan. Kongkritnya, belum ada transaksi, belum pernah closing. Bagaimana ini?Saya mencoba memotivasi diri dengan membaca-baca buku-buku motivasi, mencari bantuan yang relevan khususnya menyangkut permodalan dan peningkatan semangat.Selain itu, keinginan untuk memberikan sesuatu yang sedikit berbeda pada akhir tahun ini turut menjaga motivasi agar tetap tinggi. Pokoknya, perlu usaha ekstra untuk mempercepat moment penting, closing. Pecah telor deh.
6.11.08
MENGAJAR SAMBIL BERBISNIS
Niat saya untuk merambah dunia bisnis baru sebenarnya sudahlah bulat. Akan tetapi, karena berbagai kondisi seperti sulitnya untuk fokus sehubungan dengan kurangnya modal dan lamanya proses mendapatkan penjualan, ditambah dengan waktu yang fleksibel sekaligus kosong, maka saya mengambil kesempatan untuk kerja sampingan sebagai guru. Walaupun saya mengajar di dalam kelas di Sekolah Advent Jatinegara, tapi kondisinya lebih longgar. Saya diminta untuk mengajar bahasa Inggris dalam format English Club. Fokus utamanya adalah untuk memberikan dorongan kepada para siswa untuk berbicara dalam bahasa Inggris.
Pada waktu wawancara, saya katakan kepada Kepala Sekolahnya bahwa saya akan menyediakan waktu 2 hari dalam seminggu. Setelah diatur dan dipertimbangkan, ternyata waktu tidak cukup hanya 2 hari. Perlu tambahan minimal satu hari lagi. Mengingat kelas yang akan saya tangani berjumlah 9 kelas, masing-masing 1 kelas dari kelas 1 sampai kelas 9 (3 SMP). Jadilah saya hadir pada hari Selasa, Rabu dan Jumat. Pelajaran English Club berlangsung dari pukul 11.00 sampai pukul 15.00 (khusus hari Selasa).
Mengajar kembali bermakna ganda bagi saya. Pertama, saya kembali memelihara kemampuan bahasa Inggris khususnya berhadapan dengan siswa. Sementara itu, saya dapat menyalurkan minat untuk memberikan pendidikan sekaligus memperhatikan dan mengasihi anak-anak tersebut. Kedua, saya mendapatkan imbalan yang cukup pantas. Ini bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sekaligus tambahan untuk modal kerja di bidang properti.
Dengan demikian, saya tetap menjaga konsistensi untuk bekerja di 3 bidang utama yaitu pendidikan, multi media dan bisnis (properti). Pada saatnya nanti, saya akan beranjak dari posisi sebagai karyawan saja bergerak menjadi seorang employer, owner atau businesman. Inilah yang disebut oleh Robert T. Kiyosaki dengan pindah kuadran atau menginjakkan kaki di dua kuadran. Dengan bahasa lain mempunyai Prime Source Income dan Multi Source Income.
Pada waktu wawancara, saya katakan kepada Kepala Sekolahnya bahwa saya akan menyediakan waktu 2 hari dalam seminggu. Setelah diatur dan dipertimbangkan, ternyata waktu tidak cukup hanya 2 hari. Perlu tambahan minimal satu hari lagi. Mengingat kelas yang akan saya tangani berjumlah 9 kelas, masing-masing 1 kelas dari kelas 1 sampai kelas 9 (3 SMP). Jadilah saya hadir pada hari Selasa, Rabu dan Jumat. Pelajaran English Club berlangsung dari pukul 11.00 sampai pukul 15.00 (khusus hari Selasa).
Mengajar kembali bermakna ganda bagi saya. Pertama, saya kembali memelihara kemampuan bahasa Inggris khususnya berhadapan dengan siswa. Sementara itu, saya dapat menyalurkan minat untuk memberikan pendidikan sekaligus memperhatikan dan mengasihi anak-anak tersebut. Kedua, saya mendapatkan imbalan yang cukup pantas. Ini bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sekaligus tambahan untuk modal kerja di bidang properti.
Dengan demikian, saya tetap menjaga konsistensi untuk bekerja di 3 bidang utama yaitu pendidikan, multi media dan bisnis (properti). Pada saatnya nanti, saya akan beranjak dari posisi sebagai karyawan saja bergerak menjadi seorang employer, owner atau businesman. Inilah yang disebut oleh Robert T. Kiyosaki dengan pindah kuadran atau menginjakkan kaki di dua kuadran. Dengan bahasa lain mempunyai Prime Source Income dan Multi Source Income.
PERLU MODAL LEBIH
Waktu saya menyatakan niat untuk terlibat dalam bisnis properti, kakak saya berkata,"Lam, bisnis itu perlu modal banyak!" Tadinya, saya anggap pernyataan itu hanya sebagai peringatan untuk lebih bersiap diri. Memang sih, bisnis apa sih yang tidak memerlukan modal?
Saat ini, saya merasakan unsur kebenaran perkataan tsb. Pengeluaran yang wajib pastinya adalah untuk biaya/ongkos transportasi, beli pulsa untuk bertelepon dan iklan di media massa. Itu biaya yang tidak boleh tidak keluar.
Padahal langkah awal untuk bisnis properti ini adalah mencari listing, baik listing eksklusif maupun listing open. Setelah bertelepon kepada calon penjual atau pemilik, kita sebagai Marketing Associate harus memastikan bukti fisik properti tsb dalam keadaan layak jual. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi lokasi. Anggaplah kita mendapat persetujuan dan dia bersedia jadi listing, tugas selanjutnya adalah memasarkannya. Media pemasaran yang paling luas adalah melalui iklan di surat kabar atau menampilkannya dalam internet misalnya dalam www. rumah123.com. Lalu, bila ada calon pembeli serius, kita harus mendampingi dia pergi ke lokasi. Semua itu membutuhkan dana lancar yang tidak bisa ditunda.
Menyikapi hal ini, Pak Fredi Dharmawan,mentor ERA Permata, menyatakan kita memang harus menyediakan anggaran khusus. Jumlahnya terserah. Yang penting, kita punya target untuk menggunakan dana tsb secara efisien untuk mencapai closing. Bila segala upaya telah kita lakukan dan ternyata anggaran kita habis tanpa pernah closing, ada kemungkinan kita kurang di cocok di bidang properti ini. Atau setidaknya, kita membuthkan suntikan modal lebih banyak disertai usaha lebih konstan dan memanfaatkan segala jaringan dan saluran pemasaran yang ada.
Bila hal itu terjadi, kita tidak perlu merasa sedih. Apalagi merasa gagal dalam hidup. Orang yang gagal adalah orang tidak pernah berhasil. Bila kita belum berhasil minimal sekali closing, itu berarti kita perlu introspeksi dalam aspek apa saja kita perlu lebih menata diri lagi. Jangan pernah patah semangat, apalagi patah hati. Kesempatan selalu terbuka bagi orang yang berusaha keras, bekerja tulus dan mengembangkan kreativitas.
Saat ini, saya merasakan unsur kebenaran perkataan tsb. Pengeluaran yang wajib pastinya adalah untuk biaya/ongkos transportasi, beli pulsa untuk bertelepon dan iklan di media massa. Itu biaya yang tidak boleh tidak keluar.
Padahal langkah awal untuk bisnis properti ini adalah mencari listing, baik listing eksklusif maupun listing open. Setelah bertelepon kepada calon penjual atau pemilik, kita sebagai Marketing Associate harus memastikan bukti fisik properti tsb dalam keadaan layak jual. Satu-satunya cara adalah dengan mendatangi lokasi. Anggaplah kita mendapat persetujuan dan dia bersedia jadi listing, tugas selanjutnya adalah memasarkannya. Media pemasaran yang paling luas adalah melalui iklan di surat kabar atau menampilkannya dalam internet misalnya dalam www. rumah123.com. Lalu, bila ada calon pembeli serius, kita harus mendampingi dia pergi ke lokasi. Semua itu membutuhkan dana lancar yang tidak bisa ditunda.
Menyikapi hal ini, Pak Fredi Dharmawan,mentor ERA Permata, menyatakan kita memang harus menyediakan anggaran khusus. Jumlahnya terserah. Yang penting, kita punya target untuk menggunakan dana tsb secara efisien untuk mencapai closing. Bila segala upaya telah kita lakukan dan ternyata anggaran kita habis tanpa pernah closing, ada kemungkinan kita kurang di cocok di bidang properti ini. Atau setidaknya, kita membuthkan suntikan modal lebih banyak disertai usaha lebih konstan dan memanfaatkan segala jaringan dan saluran pemasaran yang ada.
Bila hal itu terjadi, kita tidak perlu merasa sedih. Apalagi merasa gagal dalam hidup. Orang yang gagal adalah orang tidak pernah berhasil. Bila kita belum berhasil minimal sekali closing, itu berarti kita perlu introspeksi dalam aspek apa saja kita perlu lebih menata diri lagi. Jangan pernah patah semangat, apalagi patah hati. Kesempatan selalu terbuka bagi orang yang berusaha keras, bekerja tulus dan mengembangkan kreativitas.
28.10.08
BAGAIMANA LULUS CUMLAUDE DARI HARDKNOCK UNIVERSITY?
Sejak tanggal 2 September 2008, saya mulai bergabung dalam bisnis property. Saya memilih bisnis ini karena memberikan kemungkinan untuk mendapatkan penghasilan yang melimpah. Selain itu, saya berharap berjumpa dengan orang-orang kaya dan sukses. Ketika berjumpa dengan mereka, saya akan dapat merasakan aura kekayaan mereka yang bukan hanya secara fisik-finansial, tetapi secara mental. Alasan ketiga terlibat di bisnis ini adalah karena syarat masuknya yang tidak macam-macam. Sangat simple. Cukup ikut training selama 4 hari. Setelah itu bekerja di lapangan. Cara kerjanya sudah ditetapkan perusahaan property ERA. Waktunya sangat fleksibel. Mereka memberi kebebasan untuk menentukan target, waktu kerja, dsb. Diibaratkan kita bukan sebagai karyawan tetapi sebagai partner. Makanya kita dinamakan sebagai MARKETING ASSOCIATES (MA). Menurut mentor Pak Fredi Dharmawan, MA harus memposisikan diri sebagai pengusaha, entrepreneur yang punya kebebasan, kreativitas, target dan daya tahan untuk mencapai target tsb.
Di lain pihak, bekerja sebagai layaknya pengusaha ini mengandung risiko kegagalan yang sangat tinggi. Sehubungan dengan kebabasan, kita diharapkan dapat menata diri, mengatur waktu dan kegiatan dengan cermat. Penggunaan segala sumber daya harus dikontrol sendiri. Karena itu, perlu sekali efisiensi dan efektivitas. Sehubungan dengan kreativitas, tidak ada batasan untuk menerapkannya dalam aktivitas bisnis. Tapi sebelum melangkah ke sana, sangat diperlukan pemahaman yang mendalam tentang sistem ERA secara menyeluruh. Untuk itu, tidak ada pendampingan secara khusus. Memang ada mentoring, tetapi kemandirian, independensi sangatlah mutlak. Sehubungan dengan modal usaha, usaha ERA membutuhkan anggaran yang cukup besar. Setidaknya untuk transportasi, pulsa telepon, membuat spanduk, brosur, memasang iklan di koran maupun internet. Semua modal sendiri dulu yang keluar. Member broker tidak mengeluarkan biaya awal selain nge-print dan telepon rumah (kalau menelepon dari kantor). Masalah modal ini sangat signifikan berpengaruh terutama karena pada seminar awal dikatakan biaya spanduk dan iklan ditanggung oleh member broker. Dan satu faktor lain, mentalitas. Mentalitas yang percaya diri, bertanggung jawab, berpikir positif, orientasi tindakan, kegigihan adalah hal mesti dibangun dan dikembangkan terus menerus.
Bergabung dalam ERA, khususnya ERA Permata Senayan memberi nuansa baru bagi saya pribadi. Pekerjaan sebagai marketing, sales, pokoknya yang bersifat menjual dan menawarkan jasa atau barang merupakan salah satu bidang pekerjaan yang lama saya hindari. Tetapi karena melihat peluang yang ditawarkan, apa boleh buat saya pun melibatkan diri. Apalagi saya sudah lama merasa seperti terkungkung di bidang yang cukup stabil tetapi tidak menyenangkan secara finansial dan secara emosional. Secara finansial tidak memberi imbalan yang berarti. Secara emosional tidak memberi kepuasan dan tantangan kerja yang cukup berarti.
Tiba di ERA Permata Senayan, saya dan kawan-kawan yang lain ditawarkan tidak hanya menjalankan fungsi sebagai MA untuk property, tetapi juga bidang loan (pinjaman). Bidang keuangan ini makin memperrumit pikiran saya karena saya tidak begitu familiar dengan hitung-menghitung serta istilah-istilah yang ada di dalamnya. Tapi semua itu mau tidak mau harus diakrabi.
Rasanya sudah sangat jamak kalau tingkat turn over di bidang pemasaran sangatlah tinggi. Banyak yang muntaber (mundur tanpa berita), banyak yang tidak cukup kuat, tidak sabar mendapatkan closing, dan banyak juga yang kehabisan amunisi (berupa uang, ide, dan tenaga). Memang benarlah apa yang dikatakan oleh Pak Fredi, bisnis property khususnya di ERA Permata adalah ibarat belajar di kampus HARD KNOCK UNIVERSITY. Bukan HARVARD UNIVERSITY.
Belajar berlangsung di kelas mentoring paling-paling 2 jam per Minggu. Selebihnya langsung terjun di lapangan. Canvassing, menyebarkan brosur, menelepon, mengunjungi property, membuat analisa harga,bertemu dengan calon penjual dan pembeli, memasang spanduk, memasang iklan, dsb. Semua itu adalah mata kuliah yang wajib diambil. Soalnya semua sama. Penyelesaian tergantung dari kreativitas, keberanian, kegigihan serta fleksibilitas bersikap dan bertindak. Tidak ada yang mengawasi dan memberi nilai. Tapi setiap gerak gerik, pikiran, tindakan dan perkataan akan berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kelulusan.
Masa belajar tidak lama. Tidak ada hitungan tahun, cukup semester. Itupun bukan 8 semester untuk s1 atau 6 semester untuk d3. Waktu efektif cukup 6 bulan, malah ada yang mau hanya 3 bulan. Waktu selama itu dianggap memadai untuk belajar segala seluk beluk properti. Tidak perlu menyelesaikan 144 SKS, apalagi membuat skripsi segala. Yang dinilai adalah SATU, TRANSAKSI. Transaksi berarti ada peristiwa jual beli atau sewa properti yang difasilitasi oleh sang MARKETING ASSOCIATE. Dengan adanya transaksi akan mengalirlah KOMISI. Komisi inilah yang menjadi pemicu utama bagi seorang MARKETING ASSOCIATE untuk berusaha.
Karena itu, tidaklah mengherankan bila mentor atau member broker selalu menekankan pentingnya motivasi. Salah satu unsur pembentuk motivasi ini adalah setting goal, menetapkan sasaran yang SMART. Nantinya, sasaran itu dibreak down dalam dalam program, rencana tindakan per minggu dan per hari. Pada titik ini, akan terlihat gambaran seberapa jelas dan seberap kuat tekad untuk mencapai target untuk lulus dengan nilai cumlaude.
Kalau orang kampus mendapat cumlaude bila mempunyai indeks prestasi lebih dari 3,75 maka nilai cumlaude di bisnis property adalah bila dia berhasil melebihi target SMART dengan sukses secara konsisten.
Di lain pihak, bekerja sebagai layaknya pengusaha ini mengandung risiko kegagalan yang sangat tinggi. Sehubungan dengan kebabasan, kita diharapkan dapat menata diri, mengatur waktu dan kegiatan dengan cermat. Penggunaan segala sumber daya harus dikontrol sendiri. Karena itu, perlu sekali efisiensi dan efektivitas. Sehubungan dengan kreativitas, tidak ada batasan untuk menerapkannya dalam aktivitas bisnis. Tapi sebelum melangkah ke sana, sangat diperlukan pemahaman yang mendalam tentang sistem ERA secara menyeluruh. Untuk itu, tidak ada pendampingan secara khusus. Memang ada mentoring, tetapi kemandirian, independensi sangatlah mutlak. Sehubungan dengan modal usaha, usaha ERA membutuhkan anggaran yang cukup besar. Setidaknya untuk transportasi, pulsa telepon, membuat spanduk, brosur, memasang iklan di koran maupun internet. Semua modal sendiri dulu yang keluar. Member broker tidak mengeluarkan biaya awal selain nge-print dan telepon rumah (kalau menelepon dari kantor). Masalah modal ini sangat signifikan berpengaruh terutama karena pada seminar awal dikatakan biaya spanduk dan iklan ditanggung oleh member broker. Dan satu faktor lain, mentalitas. Mentalitas yang percaya diri, bertanggung jawab, berpikir positif, orientasi tindakan, kegigihan adalah hal mesti dibangun dan dikembangkan terus menerus.
Bergabung dalam ERA, khususnya ERA Permata Senayan memberi nuansa baru bagi saya pribadi. Pekerjaan sebagai marketing, sales, pokoknya yang bersifat menjual dan menawarkan jasa atau barang merupakan salah satu bidang pekerjaan yang lama saya hindari. Tetapi karena melihat peluang yang ditawarkan, apa boleh buat saya pun melibatkan diri. Apalagi saya sudah lama merasa seperti terkungkung di bidang yang cukup stabil tetapi tidak menyenangkan secara finansial dan secara emosional. Secara finansial tidak memberi imbalan yang berarti. Secara emosional tidak memberi kepuasan dan tantangan kerja yang cukup berarti.
Tiba di ERA Permata Senayan, saya dan kawan-kawan yang lain ditawarkan tidak hanya menjalankan fungsi sebagai MA untuk property, tetapi juga bidang loan (pinjaman). Bidang keuangan ini makin memperrumit pikiran saya karena saya tidak begitu familiar dengan hitung-menghitung serta istilah-istilah yang ada di dalamnya. Tapi semua itu mau tidak mau harus diakrabi.
Rasanya sudah sangat jamak kalau tingkat turn over di bidang pemasaran sangatlah tinggi. Banyak yang muntaber (mundur tanpa berita), banyak yang tidak cukup kuat, tidak sabar mendapatkan closing, dan banyak juga yang kehabisan amunisi (berupa uang, ide, dan tenaga). Memang benarlah apa yang dikatakan oleh Pak Fredi, bisnis property khususnya di ERA Permata adalah ibarat belajar di kampus HARD KNOCK UNIVERSITY. Bukan HARVARD UNIVERSITY.
Belajar berlangsung di kelas mentoring paling-paling 2 jam per Minggu. Selebihnya langsung terjun di lapangan. Canvassing, menyebarkan brosur, menelepon, mengunjungi property, membuat analisa harga,bertemu dengan calon penjual dan pembeli, memasang spanduk, memasang iklan, dsb. Semua itu adalah mata kuliah yang wajib diambil. Soalnya semua sama. Penyelesaian tergantung dari kreativitas, keberanian, kegigihan serta fleksibilitas bersikap dan bertindak. Tidak ada yang mengawasi dan memberi nilai. Tapi setiap gerak gerik, pikiran, tindakan dan perkataan akan berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kelulusan.
Masa belajar tidak lama. Tidak ada hitungan tahun, cukup semester. Itupun bukan 8 semester untuk s1 atau 6 semester untuk d3. Waktu efektif cukup 6 bulan, malah ada yang mau hanya 3 bulan. Waktu selama itu dianggap memadai untuk belajar segala seluk beluk properti. Tidak perlu menyelesaikan 144 SKS, apalagi membuat skripsi segala. Yang dinilai adalah SATU, TRANSAKSI. Transaksi berarti ada peristiwa jual beli atau sewa properti yang difasilitasi oleh sang MARKETING ASSOCIATE. Dengan adanya transaksi akan mengalirlah KOMISI. Komisi inilah yang menjadi pemicu utama bagi seorang MARKETING ASSOCIATE untuk berusaha.
Karena itu, tidaklah mengherankan bila mentor atau member broker selalu menekankan pentingnya motivasi. Salah satu unsur pembentuk motivasi ini adalah setting goal, menetapkan sasaran yang SMART. Nantinya, sasaran itu dibreak down dalam dalam program, rencana tindakan per minggu dan per hari. Pada titik ini, akan terlihat gambaran seberapa jelas dan seberap kuat tekad untuk mencapai target untuk lulus dengan nilai cumlaude.
Kalau orang kampus mendapat cumlaude bila mempunyai indeks prestasi lebih dari 3,75 maka nilai cumlaude di bisnis property adalah bila dia berhasil melebihi target SMART dengan sukses secara konsisten.
12.9.08
MEMASARKAN DIRI
Setiap perusahaan pastilah mempunyai bagian pemasaran. Kalau pun bukan bagian pemasaran, tentunya ada orang yang ditunjuk untuk menjalankan fungsi pemasaran.Yang dipasarkan adalah keunggulan perusahaan dalam menyediakan jasa atau barang, kualifikasi para karyawan sampai jajaran manajemen, serta reputasi yang sudah terbentuk selama ini.
Bagaimana dengan memasarkan diri sendiri? Justru hal inilah yang sering menjadi masalah terselubung yang dihadapi para pemasar. Bukanlah sejauh mana dia menguasai product knowledge atau strategi pemasaran, segmen pasar yang dituju tetapi lebih banyak pada diri sang pemasar.
Memasarkan diri berarti mengetahui dengan seksama di mana kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Usaha mengenali diri terutama untuk menemukan kekuatan atau kelebihan pribadi sangatlah sulit. Kalau kita coba untuk membuat atau menulis daftar, dijamin bahwa daftar kekurangan lebih banyak dari daftar kelebihan. Ini mungkin karena pengaruh dari kondisi bangsa Indonesia yang lebih mudah menemukan hal buruk. Faktor negatif dalam diri orang lain maupun dalam diri sendiri.
Hermawan Kertajaya, salah satu dari 50 guru pemasaran dunia, dalam bukunya yang mungil Marketing Yourself menyebutkan bahwa setiap orang yang memasarkan diri perlu mengenali PDB(Positioning, Differentiation, Brand). Ketiganya membentuk bangun segitiga yang saling mempengaruhi dan saling menopang.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan perlunya setiap orang menerapkan 9 prinsip pemasaran yaitu segmentation, targeting, positioning, differentiation, marketing mix, selling, brand, service dan proses.
Masih dalam bukunya, Hermawan Kertajaya menyebutkan beberapa orang yang berhasil memasarkan diri sehingga maksimal antara lain AA Gym, Purdhi Chandra, Chrisye Robby Johan,Tanadi Santosa, danDewi Lestari. Mereka sukses mengekplor diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tetap setia dengan keunggulan utama yang selama ini dirasakan paling kuat dalam dirinya.
Memasarkan diri dalam bisnis dan dalam karir serta dalam hubungan pribadi agaknya memiliki sedikit perbedaan. Khususnya bagaimana untuk memasarkan diri kepada lawan jenis. Masalah timbul karena adanya unsur emosional yang kuat. Padahal dalam hubungan pribadi ini, respons dan aksi emosional itu spontan terlihat dan susah untuk dikontrol. Sedangkan, pada sisi yang berbeda kita perlu menjaga image di depan sang impian.
Biarpun begitu, tampaknya faktor keyakinan diri, mental positif, kejujuran, berpikir terbuka serta kesediaan untuk menanggung risiko dan tanggung jawab merupakan faktor kunci dalam memasarkan diri. Tidak hanya dalam bisnis, karir tapi juga dalam hubungan percintaan.
Bagaimana dengan memasarkan diri sendiri? Justru hal inilah yang sering menjadi masalah terselubung yang dihadapi para pemasar. Bukanlah sejauh mana dia menguasai product knowledge atau strategi pemasaran, segmen pasar yang dituju tetapi lebih banyak pada diri sang pemasar.
Memasarkan diri berarti mengetahui dengan seksama di mana kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Usaha mengenali diri terutama untuk menemukan kekuatan atau kelebihan pribadi sangatlah sulit. Kalau kita coba untuk membuat atau menulis daftar, dijamin bahwa daftar kekurangan lebih banyak dari daftar kelebihan. Ini mungkin karena pengaruh dari kondisi bangsa Indonesia yang lebih mudah menemukan hal buruk. Faktor negatif dalam diri orang lain maupun dalam diri sendiri.
Hermawan Kertajaya, salah satu dari 50 guru pemasaran dunia, dalam bukunya yang mungil Marketing Yourself menyebutkan bahwa setiap orang yang memasarkan diri perlu mengenali PDB(Positioning, Differentiation, Brand). Ketiganya membentuk bangun segitiga yang saling mempengaruhi dan saling menopang.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan perlunya setiap orang menerapkan 9 prinsip pemasaran yaitu segmentation, targeting, positioning, differentiation, marketing mix, selling, brand, service dan proses.
Masih dalam bukunya, Hermawan Kertajaya menyebutkan beberapa orang yang berhasil memasarkan diri sehingga maksimal antara lain AA Gym, Purdhi Chandra, Chrisye Robby Johan,Tanadi Santosa, danDewi Lestari. Mereka sukses mengekplor diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tetap setia dengan keunggulan utama yang selama ini dirasakan paling kuat dalam dirinya.
Memasarkan diri dalam bisnis dan dalam karir serta dalam hubungan pribadi agaknya memiliki sedikit perbedaan. Khususnya bagaimana untuk memasarkan diri kepada lawan jenis. Masalah timbul karena adanya unsur emosional yang kuat. Padahal dalam hubungan pribadi ini, respons dan aksi emosional itu spontan terlihat dan susah untuk dikontrol. Sedangkan, pada sisi yang berbeda kita perlu menjaga image di depan sang impian.
Biarpun begitu, tampaknya faktor keyakinan diri, mental positif, kejujuran, berpikir terbuka serta kesediaan untuk menanggung risiko dan tanggung jawab merupakan faktor kunci dalam memasarkan diri. Tidak hanya dalam bisnis, karir tapi juga dalam hubungan percintaan.
22.8.08
BERANI BERUBAH
Kesuksesan seseorang bisa dilihat dari kondisi aktualnya dibandingkan dengan potensi yang melekat pada dirinya.Bila ditemukan kondisi aktual yang tidak sesuai dengan kecenderungan umum, maka sangat pantas dipertanyakan di manakah dia hadir ketika orang/kelompok/organisasi sedang memerlukannya.
Untuk mengeluarkan potensi dan mengubahnya menjadi kondisi aktual tidaklah mudah. Diperlukan sejumlah pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran dan emosi.Intinya, berani berubah. Tentu saja segala macam risiko harus diperhitungkan. Itulah harga yang harus dibayar.
Tapi yakinlah, dengan keberanian untuk berubah peluang untuk lebih baik pastilah lebih besar daripada terus-menerus memeluk keadaan yang lalu di mana potensi hanya tertidur dan bisa jadi potensi itu akan menyusut. Keberanian untuk memaksimalkan potensi diri akan dihargai dengan perubahan yang positif yang membawa kepuasan, kekayaan dan kesejahteraan.
Untuk mengeluarkan potensi dan mengubahnya menjadi kondisi aktual tidaklah mudah. Diperlukan sejumlah pengorbanan baik berupa waktu, tenaga, pikiran dan emosi.Intinya, berani berubah. Tentu saja segala macam risiko harus diperhitungkan. Itulah harga yang harus dibayar.
Tapi yakinlah, dengan keberanian untuk berubah peluang untuk lebih baik pastilah lebih besar daripada terus-menerus memeluk keadaan yang lalu di mana potensi hanya tertidur dan bisa jadi potensi itu akan menyusut. Keberanian untuk memaksimalkan potensi diri akan dihargai dengan perubahan yang positif yang membawa kepuasan, kekayaan dan kesejahteraan.
Langganan:
Postingan (Atom)
